Pengabdian Kepada Masyarakat

SMAN 1 Cimarga Lebak

Fakta

Penelitian Komunikasi

Dalam 10 tahun terakhir, jurnal komunikasi berpengaruh seperti New Media & Society, Journal of Communication, dan Asian Journal of Communication menunjukkan kenaikan 3 kali lipat dalam penerbitan artikel tentang komunikasi krisis dan bencana, terutama pasca pandemi COVID-19. Tren penelitian komunikasi ke depan mengarah pada isu digital, lokal, dan aplikatif. Secara global, fokus utama mencakup komunikasi berbasis AI, etika algoritma, dan pemanfaatan big data dalam krisis dan kesehatan. Di Asia Tenggara, tema dominan adalah disinformasi politik, platformisasi budaya lokal, dan komunikasi perubahan iklim. Di Indonesia, riset komunikasi makin aplikatif, menyoroti layanan publik digital, literasi digital di daerah, serta pendekatan kearifan lokal dalam pembangunan. Kolaborasi riset antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta pun semakin berkembang.

Lebih lanjut

40%

Artikel komunikasi global sejak tahun 2020 banyak yang berfokus pada komunikasi digital, termasuk media sosial, AI, disinformasi, dan algoritma

ASEAN+

Tema "komunikasi politik dan media sosial" menempati urutan teratas, dengan Indonesia, Filipina, dan Thailand sebagai kontributor terbesar

5 Tahun

terakhir, di Indonesia dari 3000+ hasil penelitian, paling banyak membahas diseminasi hoaks, literasi digital, konten kreator dan komunikasi politik Pilpres dan Pilkada

Tahun 2018

Terjadi lonjakan penelitian komunikasi praktis, khususnya komunikasi pembangunan, komunikasi risiko dan strategi komunikasi

Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat — Menjadi Duta Digital untuk Bumi dan Budaya Lebak!

MODUL PELATIHAN
PEMBERDAYAAN PENGURUS OSIS SMAN 2 RANGKAS BITUNG SEBAGAI DUTA PROMOSI DIGITAL PARIWISATA BERKELANJUTAN KABUPATEN LEBAK

Disusun oleh
Dewi Sad Tanti

Nurlela
Irmulansati Tomohardjo

Modul pelatihan “Menjadi Duta Promosi Digital Pariwisata Berkelanjutan” ini dirancang khusus untuk membekali pengurus OSIS SMAN 2 Rangkas Bitung dengan keterampilan komunikasi digital dalam mempromosikan potensi pariwisata, budaya, dan kearifan lokal Kabupaten Lebak secara profesional dan berkelanjutan. Terdiri dari lima sub-modul yang saling terintegrasi, modul ini mengajarkan peserta mulai dari pengenalan potensi lokal Lebak, teknik fotografi dan videografi dengan smartphone, copywriting untuk media sosial, strategi pengelolaan konten digital, hingga perancangan program kerja OSIS bidang pariwisata dan lingkungan. Mengusung inspirasi dari Sarasehan Seba Baduy 2026

bertema “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” (Menjaga Titipan, Merawat Alam), modul ini juga mengintegrasikan nilai-nilai konservasi lingkungan melalui praktik pengelolaan komposter dan pembenihan tanaman hidroponik, serta pelestarian kekayaan lokal tak benda seperti Jojorong (olahan gula aren khas Lebak). Dengan pendekatan praktis, partisipatif, dan berbasis kearifan lokal, modul ini menargetkan lahirnya generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cinta lingkungan, bangga terhadap budayanya sendiri, dan mampu menjadi duta promosi yang membawa pesona Lebak mendunia.

Pemberdayaan OSIS SMAN 2 Rangkasbitung sebagai Duta Promosi Digital Pariwisata Berkelanjutan

Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) di SMAN 2 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada 4 Mei 2026.

Kegiatan bertema “Pelatihan Komunikasi Digital Duta Konservasi Lingkungan dan Kearifan Lokal” ini bertujuan membekali pengurus OSIS SMAN 2 Rangkasbitung dengan keterampilan teknis dan filosofis untuk mempromosikan potensi wisata Lebak melalui platform digital secara bertanggung jawab.

Highlight Kegiatan:

  • Pelatihan teknik fotografi, videografi, dan penulisan caption kreatif.
  • Implementasi program sekolah hijau melalui pemberian unit Komposter dan Hidroponik.
  • Pelestarian kuliner lokal “Jojorong” sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
  • Pendampingan berkelanjutan untuk memastikan nilai konservasi tetap terjaga.

Tim Pelaksana PkM UMB:

  • Ketua: Dewi Sad Tanti, S.Sos., M.I.Kom.
  • Anggota: Nurlela, S.Sn., M.Ds.
  • Mitra: Wahyudi Widodo, S.Pd., M.Pd.

Terima kasih kepada Kepala Sekolah SMAN 2 Rangkasbitung, Bapak Drs. Holy Prihantono, M.Pd., serta seluruh guru dan siswa yang telah berpartisipasi.

Mari terus jaga amanat dan rawat bumi kita!

#PengabdianMasyarakat #UniversitasMercuBuana #SMAN2Rangkasbitung #Lebak #PariwisataBerkelanjutan #EdukasiDigital #SekolahHijau #KearifanLokal

Manajemen Impresi Pemimpin Daerah pada Portal Website Pemerintah Kota dan Kabupaten di Provinsi Banten

Penelitian ini berangkat dari pentingnya peran komunikasi digital pemerintah daerah dalam membentuk citra dan kepercayaan publik, khususnya pasca pelantikan kepala daerah pada tahun 2025. Di era digital, website resmi pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai alat strategis dalam membangun impresi kepemimpinan di mata masyarakat.

Fokus penelitian ini adalah mengkaji bagaimana manajemen impresi dilakukan oleh pemimpin daerah melalui portal website resmi pemerintah kota dan kabupaten di Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui analisis konten website, observasi, serta studi literatur.

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola manajemen impresi yang digunakan, serta mengeksplorasi elemen komunikasi—baik visual, tekstual, maupun interaktif—yang berkontribusi dalam pembentukan citra pemimpin daerah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar website pemerintah daerah cenderung menggunakan strategi self-promotion dan exemplification dalam menampilkan kepemimpinan. Selain itu, elemen visual seperti logo, foto pemimpin daerah, serta konten yang menonjolkan potensi daerah menjadi aspek dominan dalam membangun citra. Namun, tingkat interaktivitas masih terbatas dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi komunikasi pemerintah daerah yang lebih efektif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan publik di era digital.

Analisis Jaringan Kelembagaan dalam Pengembangan Geopark Bayah Dome untuk Membangun Komunikasi Kolaboratif Multi-Pihak

Poster ini memvisualisasikan hasil penelitian mengenai pengembangan model komunikasi kolaboratif untuk pengelolaan Geopark Bayah Dome, yang sedang dipersiapkan menuju status UNESCO Global Geopark. Kajian berfokus pada tantangan pengelolaan yang melibatkan 23 lembaga pemangku kepentingan dengan beragam karakteristik, yang mengakibatkan asimetri informasi dan partisipasi tidak setara.

Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods (kuantitatif-kualitatif) dengan desain sequential explanatory. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumen. Analisis utama dilakukan dengan Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk memetakan hierarki dan hubungan pengaruh antar pemangku kepentingan, serta kerangka 4A (Access, Awareness, Action, Advocacy) untuk mengukur keberlanjutan kelembagaan.

Temuan kunci mengungkap:

  1. Kesenjangan Komunikasi:Pola komunikasi top-down antara pembuat kebijakan dan pelaksana lapangan, serta terdistorsinya aspirasi komunitas adat dalam proses kebijakan.
  2. Ketergantungan Struktural: Analisis ISM menunjukkan ketergantungan tinggi pada lembaga penghubung (KNGI) sebagai penggerak utama.
  3. Partisipasi Terbatas:Keterlibatan komunitas adat dibatasi oleh norma tradisional (pikukuh) dan kesenjangan pemahaman antara nilai adat dan konsep geopark modern.
  4. Tingkat Keberlanjutan: Indeks keberlanjutan kelembagaan mencapai 62,4% (kategori cukup). Dimensi Action (partisipasi) paling kuat (65,12%), sementara Access (aksesibilitas) paling lemah (59,39%).

Kesimpulan penelitian menekankan kebutuhan mendesak akan model komunikasi kolaboratif yang berbasis budaya lokal, guna menjembatani kepentingan multistakeholder dan memperkuat peran komunitas adat. Integrasi analisis ISM dan kerangka 4A yang ditawarkan memberikan peta jalan strategis untuk percepatan pencapaian status UNESCO Global Geopark.

Luaran penelitian mencakup artikel ilmiah, policy brief, monograf, dan HKI berupa poster ini. Kegiatan ini didukung oleh Universitas Mercu Buana dan Badan Pengelola Geopark Bayah Dome.

Dinamika Interaksi Manusia: Aturan, Kehendak, dan Komunikasi 

Setiap interaksi manusia, dari percakapan santai antarpribadi hingga kompleksitas operasional sebuah organisasi besar, selalu terbingkai oleh seperangkat aturan. Aturan-aturan ini, yang lahir dari kesepakatan kolektif, semestinya menjadi panduan untuk mencapai ketertiban dan tujuan bersama. Namun, pada praktiknya, implementasi aturan tak pernah lepas dari interpretasi dan subjektivitas masing-masing individu. Tak heran jika anekdot bahwa aturan sengaja dibuat untuk dilanggar sering kali terdengar, mencerminkan celah antara idealisme dan realitas.

Dinamika ini dapat dipahami melalui lensa Teori Konstruksi Sosial Realitas yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam karya fundamental mereka, The Social Construction of Reality (1966). Mereka berpendapat bahwa realitas sosial, termasuk aturan dan norma, bukanlah sesuatu yang objektif dan inheren, melainkan dikonstruksi melalui interaksi dan kesepakatan antarindividu. Ketika aturan disampaikan, setiap penerima akan menyaringnya melalui kacamata pengalaman, nilai, dan tujuan pribadinya, menghasilkan beragam interpretasi yang terkadang bertentangan.

Dalam keseharian, setiap manusia memiliki batas toleransi. Kita tidak selamanya bisa berpegang teguh pada kehendak sendiri atau memaksakan keinginan. Akan selalu ada titik di mana kita harus mengakui bahwa “jalur jalan pun akan selalu ada pengecualian.” Konsep ini sejalan dengan gagasan zona penerimaan atau ambang batas toleransi dalam komunikasi, di mana ada batas-batas tertentu yang jika dilanggar dapat merusak hubungan atau menghambat tercapainya tujuan.

Kesiapan untuk mencari kompromi menjadi krusial. Negosiasi dan adaptasi adalah inti dari komunikasi yang efektif. Dalam konteks organisasi, misalnya, individu dan kelompok harus bersedia menemukan titik temu demi mencapai visi bersama atau menjaga harmoni. Meskipun terkadang tindakan berkompromi ini bisa disalahartikan sebagai “kemunafikan” oleh pihak yang lebih idealis, dalam realitas interaksi manusia, kemampuan beradaptasi dan menemukan jalan tengah adalah strategi komunikasi yang esensial untuk menjaga keberlanjutan hubungan dan sistem. Teori Negosiasi, khususnya pendekatan berbasis prinsip seperti yang dijelaskan oleh Roger Fisher dan William Ury dalam Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In (1981), menekankan pentingnya mencari solusi win-win yang menguntungkan semua pihak, bukan hanya satu sisi, dengan berfokus pada kepentingan, bukan posisi.

Satu hal yang pasti, setiap manusia memiliki kehendak. Namun, kehendak-kehendak ini tidak selalu seragam, bahkan lebih sering “padu” alias berbeda-beda. Perbedaan kehendak ini sering kali menjadi akar konflik, baik dalam skala mikro maupun makro.

Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Memaksakan kehendak bukanlah solusi jangka panjang. Cara paling efektif adalah membuka perspektif cara pikir, mendengar, dan mencoba memahami. Ini adalah inti dari komunikasi empatik, sebuah konsep yang ditekankan dalam berbagai teori komunikasi interpersonal dan konseling, seperti yang diadvokasi oleh Carl Rogers dalam pendekatannya yang berpusat pada klien (Rogers, 1959). Dengan mendengarkan secara aktif—bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi juga memahami perasaan dan kebutuhan di baliknya—kita dapat menjembatani kesenjangan yang timbul dari perbedaan kehendak.

Selain itu, Teori Atribusi dapat membantu kita memahami mengapa seseorang memiliki kehendak yang berbeda. Teori ini, yang dikembangkan oleh Fritz Heider (1958) dan kemudian diperluas oleh tokoh seperti Harold Kelley (1967), menjelaskan bagaimana kita mencoba mengidentifikasi penyebab perilaku orang lain, baik itu karena faktor internal (sifat, karakter) maupun eksternal (situasi, lingkungan). Dengan memahami atribusi, kita bisa menghindari penilaian cepat dan lebih membuka diri untuk mencari solusi.

Pada akhirnya, di tengah pusaran aturan, interpretasi, batas toleransi, dan perbedaan kehendak, ada satu titik jangkar yang penting: berdamai dengan diri sendiri. Ini bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan menerima kompleksitas interaksi manusia. Memahami bahwa dunia tidak selalu berputar sesuai keinginan kita, dan bahwa negosiasi serta kompromi adalah bagian tak terpisahkan dari hidup, dapat membantu kita mengurangi frustrasi dan meningkatkan kemampuan beradaptasi.

Seni berkomunikasi yang efektif pada akhirnya adalah seni memahami diri sendiri dan orang lain. Ketika kita mampu berdamai dengan kenyataan ini, kita tidak hanya akan menikmati hidup dengan lebih penuh syukur, tetapi juga menjadi agen komunikasi yang lebih adaptif dan konstruktif dalam setiap interaksi.

Referensi

  • Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Doubleday.
  • Fisher, R., & Ury, W. (1981). Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In. Penguin Books.
  • Heider, F. (1958). The Psychology of Interpersonal Relations. John Wiley & Sons.
  • Kelley, H. H. (1967). Attribution theory in social psychology. In D. Levine (Ed.), Nebraska Symposium on Motivation (Vol. 15, pp. 192-238). University of Nebraska Press.
  • Rogers, C. R. (1959). A theory of therapy, personality, and interpersonal relationships: As developed in the client-centered framework. In S. Koch (Ed.), Psychology: A study of a science. Vol. 3: Formulations of the person and the social context (pp. 184–256). McGraw-Hill.
Meninjau Ulang Target

Bagi banyak orang, pergantian tahun seringkali menjadi momen sakral untuk menata rencana, merumuskan tujuan, dan menetapkan target. Namun, seiring berjalannya waktu dan pengulangan ritual ini setiap tahun, proses ini terkadang kehilangan maknanya, bahkan mereduksi esensinya menjadi sekadar seremoni belaka. Fenomena ini dapat ditinjau melalui lensa Teori Ritual Komunikasi (Carey, 1989), yang memandang komunikasi bukan sekadar transmisi informasi, melainkan sebagai sebuah proses di mana realitas dibentuk, dipelihara, dan ditransformasikan melalui partisipasi dalam ritual-ritual simbolis. Ketika penetapan target menjadi “ritual tanpa makna”, itu berarti aspek partisipasi dan pembentukan realitas yang seharusnya ada telah memudar.

Sebagai sebuah ritual, target memang lekat dengan batas waktu: mulai dari harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Banyak lembaga menawarkan fasilitasi dan pendampingan dalam penyusunan target, sebuah industri yang berkembang pesat. Namun, ada paradoks di sini: para fasilitator tersebut, entah itu konsultan, pengamat, atau penonton, seringkali tidak berada di “track” atau jalur yang sama dengan apa yang kita jalani secara personal. Dalam konteks ini, kita bisa melihat adanya perbedaan dalam konteks komunikasi (Littlejohn & Foss, 2011). Konsultan beroperasi dalam konteks profesional dengan metodologi umum, sementara individu memiliki konteks personal yang sangat spesifik, kaya akan nuansa yang tidak dapat sepenuhnya dipahami dari luar.

Ironisnya, kita sendirilah yang paling memahami target personal kita. Kita tahu persis apa yang ingin kita capai, mengapa itu penting, dan bagaimana rintangan yang mungkin muncul. Ini menegaskan pentingnya komunikasi intrapribadi—dialog internal yang kita miliki dengan diri sendiri (Littlejohn & Foss, 2011). Sayangnya, pengetahuan intrinsik ini kerap terabaikan. Ini bisa disebabkan oleh pandangan subjektif yang berlebihan, yang mungkin membatasi potensi kita, atau justru terlalu banyak masukan dari luar yang mengaburkan intuisi kita sendiri.

Terlalu banyaknya masukan eksternal dapat menciptakan apa yang disebut sebagai “noise” dalam model komunikasi (Shannon & Weaver, 1949). Meskipun niatnya baik, informasi berlebih atau tidak relevan dari konsultan atau lingkungan dapat mengganggu proses pemahaman diri dan pengambilan keputusan yang jernih terkait target personal. Pandangan subjektif yang membatasi juga dapat dijelaskan melalui Teori Disonansi Kognitif (Festinger, 1957), di mana individu mungkin menghindari informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau kebiasaan yang sudah ada, sehingga menghambat peninjauan ulang target secara objektif.

Oleh karena itu, sangat penting untuk meluangkan waktu sejenak untuk meninjau ulang target setiap hari, bahkan setiap waktu. Mengapa? Karena hidup sesungguhnya tak pernah statis seperti jalan yang lurus. Realitas terus berubah, prioritas bisa bergeser, dan pembelajaran baru muncul. Fleksibilitas dalam meninjau dan menyesuaikan target bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi adaptif untuk memastikan bahwa tujuan kita tetap relevan dan bermakna di tengah dinamika kehidupan. Konsep ini sejalan dengan ide konstruktivisme dalam komunikasi, yang menekankan bahwa makna dan realitas terus-menerus dibentuk dan dibentuk ulang melalui interaksi dan pengalaman (Delia, 1987). Peninjauan ulang target secara berkala adalah bentuk aktif dari konstruksi berkelanjutan ini, yang memungkinkan individu untuk menyesuaikan “peta” mereka terhadap “wilayah” kehidupan yang terus berubah.

Dengan demikian, menetapkan target seharusnya bukan hanya ritual tahunan, melainkan proses reflektif yang berkelanjutan. Ini adalah undangan untuk senantiasa menyelaraskan keinginan terdalam kita dengan langkah-langkah praktis, sambil tetap membuka diri terhadap perubahan yang tak terhindarkan. Melalui komunikasi intrapribadi yang efektif dan kesadaran akan “noise” eksternal, kita dapat mengelola target kita dengan lebih adaptif dan bermakna.

Referensi

  • Carey, J. W. (1989). Communication as Culture: Essays on Media and Society. Routledge.
  • Delia, J. G. (1987). Communication research: A history. In C. R. Berger & S. H. Chaffee (Eds.), Handbook of Communication Science (pp. 20-98). Sage Publications.
  • Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
  • Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of Human Communication (10th ed.). Waveland Press. (Untuk konsep komunikasi intrapribadi dan konteks komunikasi)
  • Shannon, C. E., & Weaver, W. (1949). The Mathematical Theory of Communication. University of Illinois Press. (Untuk konsep noise)
Jadilah Air
Meski mulai dari satu tetes, bukan berarti tidak menjadi banyak. Meski bertemu berbagai sumber tak harus larut dalam keramaian.
.
Meski mulai dari kawasan antahberantah tapi tahu tujuan akhir muara. Meski mulai dari ketinggian tak mengurangi kerendahan hari dalam setiap perjalanan.
.
Meski harus berhadapan dengan batu, tetap bisa mencari celah dan menembus tanpa merusak langsung. Meski harus berbalur lumpur, punya cara menjadi dirinya kembali.
.
Dan, selalu menjadi penawar dahaga dalam setiap perjalanan.
.
Depok 110121
19 tahun bersama dan selalu menyibak rahasia